MENGUNGSI
bukan berarti menghindari kematian. Sebab, kematian adalah takdir yang
tidak bisa dihindari oleh siapapun. Mengungsi adalah bagian dari ikhtiar
yang memang sudah seharusnya dilakukan manusia, agar bisa bertahan dan
melanjutkan kehidupan.
Di depan
sekitar seribu jamaah yang terdiri dari pengungsi dan warga Desa
Banyurojo dan sekitarnya, Gus Yusuf membagi pengetahuannya tentang
banyak hal menyangkut bencana Merapi.
“Kita tidak boleh suudzon atau
berburuk sangka kepada Allah SWT. Banyak hikmah yang bisa kita petik,
kalau kita benar-benar merenungkan,” lanjut pria kelahiran 9 Juli 1973
ini.
Katanya,
niatkan saja bahwa mengungsi ibarat masuk pondok pesantren, atau
bermuhasabah. Mengungsi adalah belajar tentang banyak hal.
Berbagai
kejadian selama letusan Merapi, dikemas Gus Yusuf dalam bahasa yang
komunikatif dan menggelikan. “Sekarang, pohon kelapa saja bersedekap.
Tanaman salak sujud semua. Kok manusia masih saja gembelengan (bebal, pongah, bergaya),” ujar ulama yang aktif dalam banyak organisasi dan komunitas ini.
Tentu saja,
perumpamaan yang ia sebutkan mengundang tawa warga dan pengungsi yang
datang dari Dusun Babadan, Desa Paten, Kecamatan Dukun ini. “Saya
dengar, orang Babadan dan orang Banyurojo keturunan bangsawan semua, bangsane tangi awan (golongan orang yang selalu bangun siang),” cetus Gus Yusuf.
Ia kemudian
mengutip Quran Surat Alhasyr ayat 21: “Kalau sekiranya Kami turunkan
Alquran ini di atas sebuah gunung, niscaya akan kalian lihat gunung itu
tunduk karena takut kepada Allah,” ungkapnya.
Dia
menuturkan gunung api yang aktif di Indonesia ada 19. Kalau mau, Allah
bisa saja meletuskan semuanya secara bersamaan. “Allah yang pegang remote-nya. Tinggal pencet, Merapi meletus. Pencet lagi, Bromo meletus,” papar Gus Yusuf, yang membuat para jamaah tertawa lebar.
Oleh panitia, pengajian yang baru dimulai sekitar pukul 21.20 WIB itu diberi judul “Tabligh Akbar Sareng Gus Yusuf Kagem Sedherek Lereng Merapi” atau Tabligh Akbar Bersama Gus Yusuf Untuk Saudara-saudara dari Lereng Merapi.
Di Wisma Nugraha Desa Banyurojo, hingga
saat ini memang masih terdapat sekitar 100 pengungsi dari Dusun Babadan,
Desa Paten, Kecamatan Dukun. Mereka rencananya baru akan kembali ke
rumah masing-masing pada Minggu siang (5/12).
“Apa yang
disampaikan Gus Yusuf, mudah-mudahan dapat menjadi bekal rohani bagi
saudara-saudara kita, sekembalinya dari pengungsian nanti,” kata Agus
Firmansyah, Ketua Panitia Tabligh Akbar. Agus mengatakan, panitia hanya
mempersiapkan acara tersebut selama 3 hari 2 malam. “Ini semua serba
mendadak. Dana sangat minim, tapi banyak pihak yang bantu,” ujarnya.
Ia menyebutkan, pihak-pihak yang turut
mewujudkan Tabligh Akbar tersebut, yaitu Media Ndeso (komunitas
organizer, videografer dan fotografer Desa Banyurojo), Kelompok Seni
Rebana An-Nahl dari Dusun Saragan, tim relawan dari Unnes (Universitas
Negeri Semarang), serta Pemerintah Desa Banyurojo.
“Seorang
warga Dusun Kranggan meminjamkan sound system, warga Dusun Saragan dan
petugas keamanan membuat acara lancar, semua ikut berperan,” kata Agus,
yang juga Kepala Urusan Keuangan Pemerintah Desa Banyurojo.
Sebelum
Tabligh Akbar berakhir, Gus Yusuf mengajak para jamaah bershalawat. Pada
saat yang sama, beberapa relawan mengedarkan kardus kepada hadirin
untuk mengumpulkan dana amal bagi para pengungsi Merapi dari Dusun
Babadan.
Begitu terkumpul, uang sebesar Rp
870.700, – hasil sumbangan para jamaah Tabligh Akbar langsung diserahkan
oleh Mudrikah, Kepala Desa Banyurojo kepada perwakilan pengungsi.*
No comments:
Post a Comment