Tuesday, July 2, 2013

Menelisik Kesufian Gus Dur

Perkataan dan tindakan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sering dianggap kontroversial, sebenarnya bisa dilacak dalam jejak sufisme.

KH Husein Muhammad sebagai seorang sahabat dan juga murid ketua Umum PBNU 1984-1999 mencoba menelisiknya dari sisi tersebut. Ia kemudian menuliskannya dalam buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, diluncurkan dan dibedah di Wahid Institute, Jakarta, Selasa sore (25/9).

Menurut Husein di dalam kitab Ikbarul Ulama bi-Akhbaril Hukama, para ulama menceritakan berita-berita para hukama (filosof atau sufi) bahwa para tokoh besar yang mengubah dunia ternyata sampai pada sebuah puncak pemikirannya menyerukan al-wahdah wujud, Allah.

“Saya kira Gus Dur menemukan itu,” ujar pengasuh pesantren Darut Tauhid, Cirebon.Karena itu, seluruh tingkah laku Gus Dur lahir dari wujud itu, dari Tuhan. Inilah yang menggerakkan seluruh pikiran dan tindakannya; kemanusiaan, pluralisme, dan penghargaan seluruh ciptaan Tuhan.

Selain Husein didaulat jadi pembicara adalah KH Luqman Hakim dan Jaya Suprana. Menurut KH Luqman, zahidnya Gus Dur bisa dilihat dalam kehidupannya sehari-hari.

“Gus Dur itu tidak menghindari dunia, tetapi tidak mencintai dunia,” ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, sufi itu tidak menghindari dunia tapi menghindari keduniawiannya, seperti cinta harta, anak atau posisi. Karena kalau sudah cinta dunia akan datang cobaan.

“Gus Dur melakukan pembebasan itu semua,” tegasnya.

Sementara Jaya Suprana menelisik kebeseran Gus Dur dari sisi Kristiani. Dia berpendapat, Gus Dur itu tidak hanya kemauan, tapi kemampuan untuk menghargai dan menghormati kalangan yang berbeda.

“Itulah kekaguman saya yang tak habis-habisnya.”

Bedah buku tersebut dimoderatori puteri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid Sementara pembukaan puteri kedua, Anita Wahid. Dalama sambutannya, ia mengatakan bedah buku Sang zahid adalah rangakaian seribu hari Gus Dur yang jatuh pada tanggal 27 September nanti.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment